Entri Populer

Jumat, 28 Maret 2014

TAFSIR SURAT YAA SIIN AYAT 36

Tafsir Surat Yasin (Ayat 36)

TERJEMAH DAN TAFSIR
SURAT YASIN AYAT 36

Terjemahan :
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Q.S Yasin : 36)
Tafsir Bagian ayat:
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka”
Maha suci Allah yang menciptakan pasangan-pasangan. Artinya setiap sesuatu itu ada pasangannya (surat Ar Ruum).
Allah menjadikan makhluq satu itu akan menjadi jodoh dari makhluq yang satu lainnya. Allah menjadikan langit yang menjadi jodoh/pasangannya bumi.
Matahari dan Rembulan.
Dunia dan Akhirat
Ilmu dan Amal.
Manusia Laki-laki dan perempuan.
Musim hujan dan musim kemarau.
Alam nyata (bumi) ini dan alam ghaib dsb.
Dan DZat yang Menjadikan segala sesuatu yang berpasangan, Dia sendiri Maha Suci dari yang demikian. Ia Maha Tunggal dan Dia tidak menyerupai apapun yang ada di bumi maupun langit. Dialah Allah Yang Maha Esa. Dia Maha Suci dari yang dituduhkan orang-orang musyrik.

Tafsir Bagian ayat:
Dan dari apa yang tidak mereka ketahui.
Allah SWT menjadikan 70 gunung di belakang gunung Qof yang besarnya 70 gunung tersebut sama dengan gunung Qof. Di belakang gunung-gunung itu Allah menjadikan bumi putih yang terhampar mirip seperti perak yang berkilau seperti kaca. Di sana Allah yang Maha Mulia menjadikan satu makhluk yang tidak diketahui oleh keturunan anak Adam dan mereka juga tidak mengetahui anak Adam lainnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ketika malam Mi’raj saya diperlihatkan keadaan yang terdapat di belakang gunung Qof itu. Di sana ada kota yang dipenuhi oleh keturunan anak Adam. Saat mereka melihat kehadiranku mereka berucap: Alhamdulillah… Alhamdulillah… Allah Ta’ala telah memberi rahmatnya kepada kita yaitu mengizinkan kita semua dapat melihat wajahmu Wahai Nabi yang mulia “Muhammad”.
Kemudian mereka semua beriman kepada agamaku, dan saya ajari syariat agamaku dan peraturan tentang agama Islam.
Setelah semua itu, saya kemudian bertanya kepada mereka, siapakah sebenarnya Kalian semua?
Mereka menjawab “ Wahai Muhammad, kami semua ini adalah orang-orang Bani Israil” salah satu dari mereka menerangkan kepada Nabi SAW bahwa dahulu mereka ketika Nabi Musa As. Wafat, dikalangan Bani Israil terjadi peristiwa yang sangat tragis. Banyak perbedaan pendapat, permusuhan diantara mereka sendiri sampai terjadi kerusakan-kerusakan yang sangat memilukan di periode waktu yang sangat sebentar (tidak lama), bahkan setelah itu mereka pernah membunuh Nabi mereka sendiri sampai mencapai 43 Nabi. Saat itu Bani Israil benar-benar dilanda kekacauan yang sangat hebat.
Allah SWT mengutus lagi orang-orang yang ahli Zuhud dan ahli ibadah sebanyak 200 orang. Mereka mengajak pada mereka kepada kabaikan dan melarang kepada kejahatan (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar). Tetapi mereka semua juga di fitnah, dimakari, disiasati sampai akhirnya 200 arang yang ahli ibadah dan Zuhud terhadap dunia juga dibunuh semuanya oleh kaum Bani Israil. Saat itu terjadilah huru hara dan kekacauan yang sangat besar di kalangan penduduk Bani Israil.
Semua dari kami dan keturunan kami ini, keluar mengasingkan diri dari kedurhakaan mereka, sampai akhirnya kami tiba di pinggiran pantai. Di situ kami bermunajat, berdo’a dan memohon kepada Allah SWT. agar kami diselamatkan dari fitnah dan kerusakan yang terjadi di kalangan Bani israil. Dengan berserah diri dan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta serta kesungguhan hati yang dipenuhi rasa takut dan harap kami terus menerus memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa.
Setelah sekian waktu, akhirnya doa kami di kabulkan, tiba-tiba dihadapan kami muncul terowongan yang bercahaya. Kemudian kami semua memasukinya hingga kira-kira dalam kurun waktu 18 bulan, dan akhirnya sampailah kami semua di tempat ini. Nabi Musa As. pernah berpesan dan wasiat kepada kami dengan sabdanya “ kalau kalian bertemu dengan orang yang bernama Muhammad SAW. yaitu Nabi akhir zaman supaya engkau ber-salam kepadanya dan sampaikan salam-ku untuknya”.
Merekapun mengucapkan puji syukur kehadirat Allah ketika mereka pertama kali melihatku. Kemudian mereka meminta agar diajari tentang syariat Islam dan Al Qur’an. Merekapun di ajari oleh Nabi SAW tentang sholat, puasa, sholat jumat, dan semua hukum-hukum Islam.
Setelah semuanya selesai, Beliaupun bertanya kepada mereka tentang beberapa hal. Nabi SAW memulai pertanyaannya.
Saya perhatikan rumah-rumah kalian ini (dikalangan Bani Israil) terlihat tidak memiliki daun pintu, apa sebabnya?
Mereka menjawab: kami semua, diantara kami tidak ada kekhawatiran dan kecurigaan. Kami semua jujur.
Saya perhatikan rumah kalian tidak berpagar (pagarnya rata dengan tanah hanya dibatasi garis yang membedakan antar pemiliknya saja), apa sebabnya?
Kami orang-orang Bani Israil hanya memiliki hati yang satu. Hati kami ini jadi satu. Tidak beda.
Beliau bertanya lagi. Rumah kalian jauh dari Masjid, apa sebabnya?
Pahalanya lebih banyak dengan langkah yang banyak, daripada yang dekat.
Saya perhatikan kuburan kalian ada di pelataran rumah kalian, apa sebabnya?
Supaya kami selalu ingat akan mati dan agar hati kami tidak condong kepada kemewahan dunia dan segala kesibukan yang ditimbulkannya. Dan kami sibuk diri kami untuk mempersiapkan bekal kami setelah mati itu.
Saya bertanya kepada mereka, mengapa orang-orang Bani Israil tidak pernah tertawa?
Tertawa itu bisa menyebabkan gelapnya hati. Dari itu kami semua tidak suka tertawa.
Selanjutnya Nabi SAW bertanya tentang keadaan merek. Apakah mereka juga merasakan sakit. Mereka menjawab bahwa sakit itu tebusan dari dosa-dosa. Kami ini tidak durhaka dan tidak berbuat dosa, sehingga kami tidak sakit.
Beliau melanjutkan pertanyaannya. Apakah kalian juga bercocok tanam seperti kami, tanya Nabi SAW.
Iya, kami bercocok tanam. Nanti kalau sudah waktunya panen, hasilnya kami serahkan kepada Allah SWT disedekahkan ditempat semacam baitul ma. Kami semua sepakat hasil panen kita kumpulkan di suatu tempat tertentu. Kami hanya mengambil yang kami butuhkan saja. Tidak lebih. Sisanya kami letakkan ditempat itu.
Apakah kalian juga memiliki hewan peliharaan atau hewan ternak?
Mereka menjawab : kami juga memiliki hewan-hewan yang kami pelihara. Hewan-hewan itu kami lepaskan di hutan belantara dan padang rumput. Sewaktu-waktu kalau kami membutuhkan kami mengambilnya secukup keperluan kami. Selebihnya kami lepaskan lagi.
Saya perhatikan wajah orang-orang Bani Israil pucat pasi seperti ketakutan atau seperti orang sakit. Padahal kata kalian tadi kalian tidak pernah sakit. Apa sebabnya?
Mereka menimpali: pucatnya wajah kami ini dikarenakan kami sangat takut akan mati. Kami khawatir tentang keadaan setelah mati. Sedang bekal kami belum cukup untuk menghdapi jauh dan lamanya perjalanan kami setelah mati itu.
Beliau meneruskan pertanyaannya. Seberapa banyakkah kematian diantara kalian sebagaimana kematian yang terjadi pada umatku?
Mereka menjawab “ setiap tahun diantara kami terjadi kematian hanya satu orang saja.
Di alam ini (alam ghaib) banyak orang yang menyerupai keturunan Bani Israil itu. Tidak ada yang bisa mengetahui merek kecuali Allah.
Menurut pendapat Syaikh Wahidi, disebutkan bahwa dialam ghoib itu terdapat bumi, langit, gunung, lautan, Arsy, Kursi, Matahari, Bulan dan bintang-bintang. Dan keberadaan bumi (alam nyata) ini tepat di salah satu sisi dari alam ghaib itu.
Kadar bumi yang kita sekarang berada didalamnya ini bagaikan setetes air dari air yang ada di samudera. Artinya bumi ini sangat kecil dibandingkan dengan alam ghaib itu.
Dalam hadits disebutkan bahwa Rasul SAW pernah men-shalati, ikut serta mengiring dan menguburkan orang yang mati di alam ghaib itu. Ketika itu di alam ghaib itu tengah terjadi hujan. Kemudian beliau kembali ke rumah (ke alam nyata ini).
Ketika itu Siti Aisyah Rah. menjemput kehadiran beliau, seraya memegang baju dan sorban beliau.
Siti Aisyah Rah. berkata : heran saya, wahai Rasul SAW! serunya. Sorban yang engkau kenakan ternyata basah, ada apakah gerangan semua ini wahai Rasul SAW, padahal saat ini tidak terjadi hujan? Nabi menjawab: saya barusan dari alam ghaib, di alam ghaib itu juga ada hujan. Di sana juga ada mendung, ada matahari dan rembulan. Tidak ada yang mengetahui alam ghaib itu kecuali orang-orang yang menjadi kekasih Allah (Waliyulloh) dan orang-orang sholeh.
Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala urusan makhluknya.

----disadur Kitab Khamami (tafsir yasin)-----

Jumat, 21 Maret 2014

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal- awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak- kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali. Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali. “Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut. ‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi- sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha. Cinta tak pernah meminta untuk menanti Ia mengambil kesempatan Itulah keberanian Atau mempersilakan Yang ini pengorbanan Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu? “Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “ “Aku?”, tanyanya tak yakin. “Ya. Engkau wahai saudaraku!” “Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” “Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!” ‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. “Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan. “Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” “Entahlah..” “Apa maksudmu?” “Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!” “Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, “Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !” Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?” Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua. Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.” Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4) Asyraf Seferagic



Rabu, 25 Mei 2011

10 Bagian yang Mesti Diperhatikan pada Motor demi keselamatan anda



Tali spidometer jangan dibiarkan putus
 
 
 — Kebanyakan pengendara motor baru mau memerhatikan kendaraannya jika mesin rewel, tidak mau menyala atau rewel. Padahal, ada sekitar 10 pemicu petaka yang bisa menimpa pengendara dan ada di antaranya berujung dengan kecelakaan.

Perhatikan bagian-bagian di bawah ini, barangkali terjadi pada motor Anda.

1. Kabel spidomoter putus
Terutama bila putusnya bagian bawah. Jangan disepelakan dan dibiarkan putus. Bahayanya, kabel itu bisa melilit kuat ke jari-jari, Anda pun langsung terpelanting ke depan.

2. Mur kontra kabel gas
Khusus buat pemilik skubek yang doyan bongkar-pasang karburator, pastikan mur kontra pengikat pipa jalur kabel throttle sudah terikat dengan benar pada braket-nya. Bila salah satu mur kendur dan pipa berbentuk huruf "L" lepas, maka grip gas enggak mau diputar alias los. Bahayanya, saat menyalip, skubek Anda akan seperti berhenti berakselerasi, dan, baik Anda maupun mobil dari arah berlawanan atau dari belakang, belum tentu siap, lalu menabrak Anda.
3. Baut sepatbor depan
Periksa baut pengikat (4 buah), jangan sampai kendur. Bila keempat baut lepas dan penahan air itu akan jatuh ke ban, bagian belakang sepatbor akan terlipat di segitiga dan motor bisa ngerem mendadak sehingga menyebabkan bagian belakang terjungkal.

4. Karet pelindung aki
kepala aki bagian positif ditutupi, entah dari karet, plastik atau material apa pun yang tidak menghantar listrik. Jika kondisi sudah rusak dan belum sempat menggantinya, "Pastikan aki benar-benar terikat di rumahnya dan jauhnya dari komponen sekitar yang bisa menimbulkan korsleting," ujar Wawan Setiawan, kepala mekanik Yamaha mekar Motor, Bogor.

5. Tekanan angin ban
Jangan sampai tekanan angin kurang, bisa mengakibatkan bocor. Terlebih, jika motor lama tak dipakai dan parkir tanpa menggunakan standar tengah. "Kalau kurang angin, ban dalam rawan bergesek sama pelek dan ban luar sehingga menimbulkan kebocoran bahkan sampai meledak," bilang Ribut Wahyudi, mekanik Bintang Niaga Jaya, Cibinong, Bogor.

6. Ganti sproket tajam
Cermati mata gigi gir, baik depan maupun belakang, jika sudah runcing, sebaiknya ganti. Sebab, bila bagian itu sudah tajam, gampang pindah posisi. Rantai pun lepas dan terjepit di arm. Kalau Anda mendengar orang jatuh dari motor lantaran rantai putus dan terjepit di arm, ya karena kelalaian itu.

7. Sekring wajib pasang
Pastikan aki didukung sekring yang memiliki ukuran ampere sesuai anjuran. Bahkan, posisi pasang sekring benar-benar di tempatnya untuk menghindari terjadinya korslet.

8. Ganti mur tuas rem
Jika motor sudah berusia lebih dari 5 tahun, jangan lupa dengan mur penahan, pengikat sekaligus penghubung tuas rem belakang dari bahan babet, apalagi sering bongkar pasang. Hal itu memungkinkan ulir aus atau dol. Kalau sudah begitu, rem bisa bablas lantaran as penghubung tuas rem lepas dari tangkai.

9. Karet footstep rusak
Bila karet footstep copot atau hancur, maka yang tampak ujung besi sebagai komponen dasar pijakan kaki. Nah, bayangkan jika ujung besi itu menyentuh tulang kering kaki penunggang tanpa sengaja.

10. Bikin repot boncenger
Sering dijumpai, pelat nomor belakang sudah mau copot. Justru itu menjadi sumber kesialan bila tak cepat diperbaiki. Paling tidak kaki yang dibonceng jadi korban. Terutama saat hendak turun.



semoga bermanfaat,,,

Sabtu, 12 Februari 2011

Ignition Coil

  SISTEM PENGAPIAN IGNITION COIL

Uraian ;
Motor pembakaran dalam ( internal combustion engine )menghasilkan tenaga dg jalan membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder .pada motor bensin loncatan bunga api pada busi di perlukan untuk menyalakan campuran udara bahan -bakar yang telah di kompresikan oleh torak di dalam silinder.sedangkan pada motor diesel udara di kompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga menjadi sangat panas.dan bila bahan bakar di semprotkan ke dalam silinder ,akan terbakar secara serentak.karena pada motor bensin proses pembakaran di mulai oleh loncatan api tegangan tinggi yang di hasilkan oleh busi.beberapa metode di perlukan untuk menghasilkan arus tegangan tinggi yang di perlukan.
Sistem pengapian ( ignition system )pada automobile berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi 10 KW atau lebih dengan mempergunakan ignition coil dan kemudian membagi -bagikan tegangan tinggi tersebut ke masing –masing busi melalui distributor dan kabel tegangan tinggi.
- Sistem pengapian Konvensional
- Sistem pengapian Transistor
  *Tipe semi –transistor
  *Tipe full – transistor

Pada pasal ini hanya akan di terangkan mengenai system pengapian Konvensional
Lihat gambar ;


1. BATERAI
Menyediakan arus listrik tegangan rendah (biasanya 12 vol ) untuk ignition coil

2. IGNITION COIL
 Menaikkan tegangan yang di terima dari baterai menjadi tegangan tinggi yang di perlukan untuk pengapian

3. DISTRIBUTOR a. Cam/Nok - membuka breaker point ( platina ) pada sudut crankshaft ( poros engkol ) yang    tepat untuk masing – masing silinder .
b. Breaker point ( platina ) – memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan jalan (cara) induksi magnet listrik
c. Capasitor / kondensor - Menyerap loncatan bunga api yang terjadi antara breaker point /platina pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.
d. Centrifugal Governor Advancer - memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran
e. Vaqum Advancer – memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin ( vaqum intake manifold)
f. Rotor – membagikan arus listrik tegangan tinggi yang di hasilkan oleh ignition coil ke tiap –tiap busi.
g. Distributor cup – Membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing masing silinder.

4. KABEL TEGANGAN TINGGI ( KABEL BUSI )
Mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi

5. BUSI
Mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui electrodanya
Fungsi bagian komponen ;
Lihat gambar ;



IGNITION COIL
Fungsi dari ignition coil adalah merubah arus listrik 12v yang di terima dari baterei , menjadi tegangan tinggi (10 KW atau lebih )untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada clah busi.pada ignition coil ,kumparan dan sekunder di gulung pada inti besi. Kumparan-kumparan ini akan menaikkan tegangan yang di terima dari baterai menjadi tegangan yang sangat tinggi melalui (dengan cara) induksi electromagnet/induksi magnet listrik ( induksi sendiri dan induksi bersama).
Kita akan mempelajari lebih lanjut di dalam Step 2 tentang induksi magnet dan aspek tekhnik yang lain tentang kelistrikan dan kemagnetan.
Gambar ;
 
Kontruksi
Inti besi (core), yang di kelilingi oleh kumparan, terbuat dari baja silicon tipis yang di gulung ketat. Kumparan sekunder terbuat dari kawat tembaga tipis (Φ 0,05 – 0,1 mm) yang di gulung 15000 sampai 30000 kali lilitan pada inti besi, sedangkan kumparan primer terbuat dari kawat tembaga yang relative tebal (Φ0,5 – 1,0 mm) yang di gulung 150 – 300 kali lilitan mengelilingi kumparan sekunder. Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat (short circuit) antara lapisan kumparan yang berdekatan , antara lapisan satu dengan lapis yang lain disekat dengan kertas yang mempunyai tahanan sekat yang tingggi. Seluruh ruangan kosong di dalam tabung kumparan di isi dengan minyak atau campuran penyekat untuk menambah daya tahan terhadap panas. Salah satu ujung dari kumparan primer di hubungkan dengan terminal negative primer, sedangkan ujung yang lain di hubungkan dengan terminal positive primer. Kumparan sekunder di huungkan dengan cara serupa, dimana salah satu ujungnya dihubungkan dengan kumparan primer lewat (pada) terminal positif primer .sedangkan ujung lain di hubungkan dengan terminl tegangan tinggi melalui sebuah pegas.kedua kumparan di gulung dengan arah yang sama,dengan kumparan primer berada pada bagian luar.
Gambar penampang ignition coil
  

TIPE FULLY _ TRANSSISTOR.
  Sistem pengapian konvensional menghasilkan tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan jalan memutuskan arus listrik primer pada ignition coil .oleh karena itu system pengapian konvensional terdiri dari breaker point ,cam ( nok ) dan kondensor .
  Pada system pengapian fully – tranristor ,(pada sisi yang lain ) signal generator di pasangkan sebagai pengganti cam ( nok) dan breaker point pada distributor. Signal generator akan menghasilkan tegangan yang berguna untuk menyalakan transistor _2 di dalam igniter untuk memutuskan arus primer pada ignition coil.karena transistor_2 yang di pergunakan untuk memutuskan primer tidak melibatkan bagian _2 yang bergerak yang saling bersinggungan,maka tidak terjai keausandan tidak terjadi penurunan tegangan sekunder yang di hasilkan.



Distributor pada system pengapian tipe fully-transistor ada kalanya ignition coil dan igniter di pasangkan di dalamnya.

sistem pengisian pada mobil

SISTEM PENGISIAN PADA MOBIL

Baterai dengan kapasitas tertentu, tidak memungkinkan dipakai secara terus-menerus mensuplai kebutuhan listrik pada mesin atau komponen lainnya pada mobil.
Oleh karena itu, pada mobil dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengisi baterai kembali sekaligus sebagai sumber listrik yang mensuplai listrik langsung ke komponen yang membutuhkan pada saat mesin dihidupkan. Sistem ini disebut sistem pengisian.

Komporen—komponen utama sistem pengisian terdiri baterai,alternator,kunci kontak dan regulator, seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini :



















1. Alternator

Alternator berfungsi untuk menghasilkan arus bolak-balik.alternator memsuplai kebutuhan listrik pada mobil sewaktu mesin hidup. Tetapi apabila jumlah pemakaian listrik lebih besar daripada yang dihasilkan alternator, maka baterai lkut memikul beban kelistrikan tersebut.















memperlihatkan konstruksi alternator,Alternator digerakkan oleh poros engkol melalui tali kipas Dengan berputamya puli alternator, maka rotornya akan berputar menghasilkan arus listrik bolak-balik pada stator. Arus listrik bolak-balik ini kemudian diubah menjadi arus searah oleh rangkaian dioda.


Bagian bagian alternator
a. PuIi
Puli berfungsi untuk menerima tenaga mekanis dari mesin untuk memutarkan rotor

b. Kipas
Kipas berfungsi mendinginkan ramgkaian dioda dan kumparan kumparan pada alternator.

c. Rotor
Didalam alternator, rotor merupakan bagian yang bergerak (berputar) .Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet . Kuku-kuku pada rotor berfungsi sebagai kutub-kutub magnet dan dua slip ring berfungsi sebagai perantara penyaluran listrik ke kumparan rotor. Perhatikan gambar di bawah ini :












d. Stator













Stator berfungsi untuk membangkitkan arus listrik bolak-balik.
Stator terdiri dari : Stator Coil dan Stator Core

e. End frame

End frame berfungsi untuk pemegang bagian-bagian Alternator.
Pada end frame terdapat lubang-lubang ventilasi untuk tempat mangalirnya udara pendingin.


f. Rectifier

Rectifier berfungsi mengubah arus bolak-balik (AC) yang dihasilkan menjadi arus searah (DC).
Rectifier terdiri dari 3 dioda positif, 3 dioda negatif dan dioda holder.
dioda holder berfungsi untuk meradiasikan panas dan mencegah dioda panas

g. Regulator

Regulator berfungsi mengatur besar arus listrik yang masuk ke dalam kumparan rotor, sehingga tegangan yang dihasilkan oleh alternator tetap (konstan) sesuai dengan harga yang telah ditentukan, walaupun putaran mesin yang menggerakkan berubah-ubah. Di samping itu regulator juga berfungsi pengisian pada baterai apabila baterai telah penuh dan alternator sudah dapat menyuplai arus listrik sendiri ke bagian yang memerlukan arus listrik.

Rabu, 15 Desember 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat.
Karunia Allah terbesar yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat ketaatan, nikmat dien dan iman. Sebaliknya, hukuman Allah terberat atas manusia adalah diharamkannya dari nikmat ini, terjerumus dalam kemaksiatan dan penyimpangan.
Pada umumnya, orang memahami nikmat adalah harta, kesehatan, jabatan, anak, istri, mobil dan rumah mewah. Memang benar semua ini merupakan nikmat, tapi nikmat yang pasti akan lenyap dan pergi meninggalkan kita atau kita meninggalkannya. Sedangkan nikmat hakiki yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba yang dicintainya adalah nikmat iman. Allah telah berfirman tentang orang-orang yang mendapatkan kerunia terbesar ini,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
"Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah." (QS. An-Nisa': 69)
Siapa mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah? Yaitu:
مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا 
"Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa': 69) Siapa yang tersisa selain mereka?, tidak lain adalah para perusak dan jahat. -semoga Allah melindungi kita darinya-.
Allah telah memberikan nikmat kepada para nabi dengan nikmat dien, walaupun terkadang mereka hidup sampai meninggalnya dalam kondisi fakir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, pemimpin umat manusia, manusia terbaik di atas bumi, pembawa bendera pada hari penghisaban, orang pertama yang masuk surga, pemilik syafa'at kubra pada hari kiamat; hidup dengan sangat sederhana. Bahkan alas tidur beliau berupa tikar sehingga ketika bangun, sulamannya  membekas pada tubuhnya Beliau tidak pernah kenyang dengan makanan selama tiga hari berturut-turut, dan ketika wafat beliau masih menggadaikan baju besinya dengan 30 sha' gandum.
Aisyah radliyallahu 'anha  berkata, "Pernah berlalu tiga purnama sementara di rumah keluarga Muhammad tidak dinyalakan api. Abdullah bin Zubair bertanya, "Lalu apa makanan Anda sekalian, wahai Ibunda?" Beliau menjawab, "Dua makanan hitam: kurma dan air." (HR. Bukhari)
Dengan kondisi ini, mereka disebut mendapat nikmat. Berarti nikmat ini bukan nikmat perut. Berapa banyak orang yang perutnya kenyang dengan yang haram dan dipenuhi dengan makanan hasil riba. Betapa banyak orang yang badannya gemuk, tapi menjadi penghuni neraka, menjadi bahan bakar jahannam. Betapa banyak orang yang mobilnya mewah, namun tempat kembalinya ke neraka. Betapa banyak orang memiliki kedudukan tinggi, namun kedudukan itu menempatkannya di neraka. -Kita berlindung kepada Allah dari nasib seperti ini-.
Lalu apa nikmat yang hakiki dan terbesar itu? Nikmat hakiki dan terbesar adalah nikmat dien (iman dan Islam). Siapa yang mendapat dien, lalu dia teguh dalam berpegang dengannya maka itu lebih baik dari pada orang kaya yang bergantung kepada harta. Sebaliknya, siapa yang kehilangan nikmat ini akan mendapat adzab.
وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
"Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Baqarah: 211)
Maknanya, apabila Allah telah menganugerahkan nikmat iman kepadamu, lalu engkau menggantinya dengan kekufuran dan kemaksiatan setelah engkau mendapatkan nikmat tersebut dan merasakan manisnya iman, maka sungguh siksa Allah amat sangat keras dan pedih.
Siapa yang mendapat dien, lalu dia teguh dalam berpegang dengannya maka itu lebih baik dari pada orang kaya yang bergantung kepada harta.
Namun, zaman sekarang banyak orang yang tidak memahami keagungan nikmat iman. Sehingga apabila Allah memberikan nikmat iman kepadanya, dia tidak perhatian, tidak menjaga dan meningkatkannya. Sebaliknya apabila dia diberi harta yang banyak, perkebunan yang subur, peternakan yang berkembang bagus, dan bisnis yang sukses maka dia akan sibuk menjaga dan mengurusinya. Hampir-hampir pikirannya tidak pernah lepas darinya. Otaknya tidak pernah berhenti memikirkanya. Bahkan dalam shalat selalu terbayang harta benda dan kekayaannya.
Ya Allah,. . .  Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . .
Sesungguhnya tidak ada bencana yang lebih besar daripada musibah dien dan iman. Di antara bentuknya, diharamkannya seseorang dari ketaatan karena tidak Allah pilih untuk mendapat hidayah-Nya sehingga terus menerus dia berkubang dengan kemaksiatan. Puncak dari musibah ini adalah hilangnya status agama dan iman dari dirinya, dikarenakan kesyirikan atau kekafiran yang dilakukannya.
Allah berfirman tentang nasib orang-orang musyrik dan kafir,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: 'Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'." (QS. Az-Zumar: 65-66)
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS. Al Nuur: 39)
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqaan: 23)
Allah menjelaskan nasib orang murtad (berpindah dari Islam kepada agama selainnya) di dunia dan akhirat,
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217) Di sini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa mati di atas kemurtadan menghapuskan seluruh amal shalih di dunia dan akhirat, serta mengakibatkan kekal di dalam Neraka.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
"Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat." (QS. Ali Imran: 90) Siapa yang kafir setelah sebelumnya beriman dan terus-terusan kafir dan tidak mau bertaubat sampai datang kematian, maka sekali-kali Allah tidak akan menerima taubatnya ketika ajal menjemputnya.
Seorang musyrik dan kafir haram masuk surga dan akan kekal dalam neraka. Allah berfirman;
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun." (QS. Al Maidah: 72)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ  خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
"Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh." (QS. Al-Baqarah: 161-162)
Dari Ibunda Aisyah radliyallah 'anha, berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Ya Rasulallah, Ibnu Jud'aan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, "Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan." (HR. Muslim)
Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, "Bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir."
Oleh karena itu, musibah dunia seberapa berat dan dahsyat, tidaklah lebih besar dibandingkan dengan musibah yang menimpa dien dan iman. Karena musibah ini akan menyebabkan kerugian besar di dunia dan akhirat.
"Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS. Al-Zumar: 15)
Dalam sebuah doa yang panjang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan bahwa musibah terbesar adalah musibah yang menimpa dien dan iman, karenanya beliau berlindung dari tertimpa musibah ini.
. . . . وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا . . .
". . .  Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . ." (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasnakan hadits ini dalam Shahih al-Jaami')
(PurWD/voa-islam.com)
Tulisan Terkait:
2. Iman Sebagai Syarat Sah dan Diterimanya Ibadah